Sabtu, 29 Juni 2019

IntraMuskular

ILMU KEPERAWATAN DASAR
INTRA MUSKULAR











DI SUSUN OLEH
KELOMPOK 3
VITA ULAN
SRI ASTUTI
EVA BONITA
NURUL AINI
ALYATI
RODHATUL JANNAH
INEKE IVONG
MESSY SUPRIANTINI
IDA NURWAHIDA
DOMINATRI
BAGUS BAJANG RINJANI
M.RIZAL PHALEPI

STIKES MATARAM
JUNI 2019


BAB I
PENDAHULUAN


1.1.       Latar Belakang
Tindakan injeksi merupakan salah satu tindakan medis yang paling sering dikerjakan. Lebih dari 90% tindakan injeksi dikerjakan untuk tujuan terapeutik, sementara 5-10% untuk tindakan preventif termasuk keluarga berencana. Tindakan injeksi harus dikerjakan secara aman. Penggunaan alat injeksi yang berulang dapat menjadi sumber transmisi virus Hepatitis B, virus Hepatitis C dan HIV. Karena itu WHO merekomendasikan pengunaan alat injeksi sekali pakai (disposable).
Tidak jarang tindakan injeksi menimbulkan rasa takut pada pasien, baik anak maupun orang dewasa. Tehnik yang tepat dapat mengurangi rasa sakit akibat proses injeksi. Empat hal yang harus diperhatikan dalam tindakan injeksi yaitu: rute injeksi, lokasi injeksi, tehnik dan alat.
Injeksi adalah suatu metode untuk memasukkan liquid ke dalam tubuh dengan menggunakan spuit dan jarum melalui kedalaman kulit tertentu agar bahan-bahan dapat didorong masuk kedalam tubuh. Tindakan injeksi pun dapat dilakukan dengan rute IM (Intramuskular), IV (Intravena), IC (Intracutan), dan SC(Subcutan).
Injeksi itramuskular (IM), memungkinkan adsorbsi obat yang lebih cepat daripada rute SC karena pembuluh darah lebih banyak terdapat di otot. Bahaya kerusakan jaringan berkurang ketika obat memasuki otot yang dalam tetapi bila tidak berhati-hati ada resiko menginjeksi obat langsung ke pembuluh darah. Dengan injeksi di dalam otot yang terlarut berlangsung dalam 10-30 menit, guna memperlambat adsorbsi dengan maksud memperpanjang kerja obat, seringkali digunakan larutan atau suspensi dalam minyak umpamanya suspense penicilin dan hormone kelamin.

1.2.       Rumusan Masalah
1.        Apa pengertian pemberian obat secara IM?
2.        Apa prinsip pemberian obat secara IM?
3.        Apa indikasi dan kontra indikasi pemberian obat secara IM?
4.        Apa macam-macam obat yang diberikan secara IM?
5.        Dimana daerah pemberian obat secara IM?
6.        Bagaimana prosedur pemberian obat secara IM?

                                             
1.3.       Tujuan
1.        Untuk mengetahui pengertian pemberian obat secara IM.
2.        Untuk mengetahui prinsip pemberian obat secara IM.
3.        Untuk mengetahui indikasi dan kontra indikasi pemberian obat secara IM.
4.        Untuk mengetahui macam-macam obat yang diberikan secara IM.
5.        Untuk menegtahui daerah pemberian obat secara IM.
6.        Untuk mengetahui prosedur pemberian obat secara IM.
                             
1.4.       Manfaat
1.        Agar dapat mengetahui pengertian pemberian obat secara IM.
2.        Agar dapat mengetahui prinsip pemberian obat secara IM.
3.        Agar dapat mengetahui indikasi dan kontra indikasi pemberian obat secara IM.
4.        Agar dapat mengetahui macam-macam obat yang diberikan secara IM.
5.        Agar dapat mengetahui daerah pemberian obat secara IM.
6.        Agar dapat mengetahui prosedur pemberian obat secara IM.




BAB II
PEMBAHASAN


2.1.    Pengertian Pemberian Obat Secara IM
Pemberian obat secara intramuskular adalah pemberian obat/cairan dengan cara dimasukkan langsung kedalam otot (muskulus). Pemberian obat dengan cara ini dilakukan pada bagian tubuh yang berotot besar, agar tidak ada kemungkinan untuk menusuk saraf, misalnya pada bokong dan kaki bagian atas atau pada lengan bagian atas. Pemberian obat seperti ini memungkinkan obat akan dilepas secara berkala dalam bentuk depot obat.
Jaringan intramuskular terbentuk dari otot yang bergaris yang mempunyai banyak vaskularisasi aliran darah tergantung dari posisi otot ditempat penyuntikan. Tujuan pemberian obat secara intramuskular yaitu agar obat diabsrorbsi tubuh dengan cepat.
                                                                                                                      
2.2.    Prinsip Pemberian Obat Secara IM
Para petugas medis dituntut harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat, termasuk 6 prinsip pemberian obat yang benar. Adapun 6 prinsip tersebut antara lain:
1.        Benar Klien/Pasien
Obat yang akan diberikan hendaknya benar pada pasien yang diprogramkan dengan cara mengidentifikasi kebenaran obat dengan mencocokkan nama, nomor register, alamat dan program pengobatan pada pasien.
Sebelum obat diberikan, identitas pasien harus diperiksa (papan identitas di tempat tidur, gelang identitas) atau ditanyakan langsung kepada pasien atau keluarganya. Jika pasien tidak sanggup berespon secara verbal, respon non verbal dapat dipakai, misalnya pasien mengangguk. Jika pasien tidak sanggup mengidentifikasi diri akibat gangguan mental atau kesadaran, harus dicari cara identifikasi yang lain seperti menanyakan langsung kepada keluarganya. Bayi harus selalu diidentifikasi dari gelang identitasnya.          
2.        Benar Obat
Sebelum mempersipakan obat ketempatnya perawat harus memperhatikan kebenaran obat sebanyak 3 kali yaitu ketika memindahkan obat dari tempat penyimpanan obat, saat obat diprogramkan, dan saat mengembalikan ketempat penyimpanan.
Obat memiliki nama dagang dan nama generik. Setiap obat dengan nama dagang yang kita asing (baru kita dengar namanya) harus diperiksa nama generiknya, bila perlu hubungi apoteker untuk menanyakan nama generiknya atau kandungan obat. Sebelum memberi obat kepada pasien, label pada botol atau kemasannya harus diperiksa tiga kali. Pertama saat membaca permintaan obat dan botolnya diambil dari rak obat, kedua label botol dibandingkan dengan obat yang diminta, ketiga saat dikembalikan ke rak obat. Jika labelnya tidak terbaca, isinya tidak boleh dipakai dan harus dikembalikan ke bagian farmasi. Jika pasien meragukan obatnya, perawat harus memeriksanya lagi. Saat memberi obat, perawat harus ingat untuk apa obat itu diberikan. Ini membantu mengingat nama obat dan kerjanya.
3.        Benar Dosis
Dosis yang diberikan klien harus sesuai dengan kondisi klien. Dosis yang diberikan harus pula dalam batas yang direkomendasikan untuk obat yang bersangkutan. Perawat harus teliti dalam menghitung secara akurat jumlah dosis yang akan diberikan, dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: tersedianya obat dan dosis yang diresepkan/diminta, pertimbangan berat badan klien (mg/KgBB/hari), jika ragu-ragu dosis obat harus dihitung kembali dan diperiksa oleh perawat lain. Serta melihat batas yang direkomendasikan bagi dosis obat tertentu.
4.        Benar Waktu
Pemberian obat harus sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Dosis obat harian diberikan pada waktu tertentu dalam sehari. Misalnya seperti 2x sehari, 3x sehari, 4x sehari, dan 6x sehari. Sehingga kadar obat dalam plasma tubuh dapat dipertimbangkan. Pemberian obat harus sesuai dengan waktu paruh obat (t ½). Obat yang mempunyai waktu paruh panjang diberikan sekali sehari, dan untuk obat yang memiliki aktu paruh pendek diberika beberapa kali sehari pada selang waktu tertentu. Pemberian obat juga memperhatikan dibeikan sbelum atau sesudah makan atau bersama makan. Ingat pula untuk memberikan obat-obat seperti kalium dan aspirin yang dapat mengiritasi mukosa lambung bersama-sama dengan makanan. Menjadi tanggung jawab perawat untuk memeriksa apakah klien telah dijadwalkan untuk memeriksa diagnostik, seperti tes darah puasa yang merupakan kontraindikasi pemeriksaan obat.         
5.        Benar Cara/Rute
Memperhatikan proses absorbsi obat dalam tubuh harus tepat dan memadai. Obat dapat diberikan melalui sejumlah rute yang berbeda. Faktor yang menentukan pemberian rute terbaik ditentukan oleh keadaan umum pasien, kecepatan respon yang diinginkan, sifat kimiawi dan fisik obat, serta tempat kerja yang diinginkan. Obat dapat diberikan peroral, sublingual, parenteral, topikal, rektal, inhalasi.
6.        Benar Dokumentasi
Pemberian obat sesuai dengan standar prosedur yang berlaku di rumah sakit. Dan selalu mencatat informasi yang sesuai mengenai obat yang telah diberikan serta respon klien terhadap pengobatan. Setelah obat itu diberikan, harus didokumentasikan, dosis, rute, waktu dan oleh siapa obat itu diberikan. Bila pasien menolak meminum obatnya, atau obat itu tidak dapat diminum, harus dicatat alasannya dan dilaporkan.

2.3.    Indikasi dan Kontraindikasi Pemberian Obat Secara IM
Indikasi pemberian obat secara intramuskular biasa dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral. Kontra indikasi dalam pemberian obat secara intramuskular yaitu: infeksi, lesi kulit, jaringan parut, benjolan tulang, otot atau saraf besar dibawahnya.

2.4.    Macam-macam Obat IM
Berikut adalah macam-macam obat yang diberikan secara intramuskular:
a.         MATOLAC
1)        Untuk penggunaan jangka pendek untuk nyeri akut sedang sampai dengan berat.
2)        DOSIS : 10-30 mg tiap 4-6 jam. maks: sehari 90 mg, lama terapi maksimal (pemberian IM/IV) tidak boleh dari 5 hari. km : 5 amp 10 mg
b.        FENTANYL
1)        Untuk depresi pernafasan,cedera kepala,alkhoholisme akut, serangan asma akut, intolerensihamil,laktasi.
2)        DOSIS: pramedikasi, 100 mcg  scr IM 30-60 sblm op.
c.         DOLGESIK
1)        Untuk pengobatan nyeri akut dan kronik yang berat, nyeri paska op (oprasi).
2)        DOSIS: dosis tunggal untuk dewasa  dan anak-anak >12 thn : 1 amp (100mg) IM di suntikkan perlahan-lahan. Maksimal 4 amp . anak- anak :, 1 thn: 1-2 mg/kg.
d.        DURALGIN.
1)        Untuk analgesik seperti : nyeri setelah op, neuralgia.
2)        DOSIS
-      Dws 25-100 mg ,maksimal sehari 300 mg dalam dosis.
-      Bagi, anak ,6 thn: sehari maks 100 mg i.m
-      Dosis bagi anak-anak 6-12 thn : sehari maksimal 20000 mg.
e.       BCG
1)      Perlindungan Penyakit : TBC / Tuberkolosis
2)      Penyebab : Bakteri Bacillus Calmette Guerrin
3)      Kandungan : Bacillus Calmette-Guerrin yang dilemahkan
4)      Waktu Pemberian :
Umur / usia 2 bulan
f.       DPT/DT
1)      Perlindungan Penyakit : Difteri (infeksi tenggorokan), Pertusis (batuk rejan) dan Tetanus (kaku rahang).
2)      Penyebab : Bakteri difteri, pertusis dan tetanus
3)      Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 3 bulan
II. Umur / usia 4 bulan
III. Umur / usia 5 bulan
IV. Umur / usia 1 tahun 6 bulan
V. Umur / usia 5 tahun
VI. Umur / usia 10 tahun
g.      Hepatitis B
1)      Perlindungan Penyakit : Infeksi Hati / Kanker Hati mematikan
2)      Waktu Pemberian :
I. Ketika baru lahir atau tidak lama setelahnya
II. Tergantung situasi dan kondisi I
III. Tergantung situasi dan kondisi II
IV. Tergantung situasi dan kondisi II
h.      Hepatitis A
1)      Perlindungan Penyakit : Hepatitis A (Penyakit Hati)
2)      Penyebab : Virus hepatitis A
3)      Waktu Pemberian :
I. Tergantung situasi dan kondisi I
II. Tergantung situasi dan kondisi II





2.5.    Daerah Pemberian Obat Secara IM
1.        Paha (vastus lateralis)
Posisi klien terlentang dengan lutut agak fleksi. Area ini terletak antar sisi median anterior dan sisi midlateral paha. Otot vastus lateralis biasanya tebal dan tumbuh secara baik  pada orang deawasa dan anak-anak. Bila melakukan injeksi pada bayi disarankan menggunakan area ini karena pada area ini tidak terdapat serabut saraf dan pemubuluh darah besar. Area injeksi disarankan pada 1/3 bagian yang tengah. Area ini ditentukan dengan cara membagi area antara trokanter mayor sampai dengan kondila femur lateral menjadi 3 bagian, lalu pilih area tengah untuk lokasi injeksi. Untuk melakukan injeksi ini pasian dapat diatur miring atau duduk.
2.        Ventrogluteal
Description: H:\VGIM.jpgPosisi klien berbaring miring, telentang, atau telentang dengan lutut atau panggul miring dengan tempat yang diinjeksi fleksi. Area ini juga disebut area von hoehstetter. Area ini paling banyak dipilih untuk injeksi muscular karena pada area ini tidak terdapat pembuluh darah dan saraf besar. Area ini ini jauh dari anus sehingga tidak atau kurang terkontaminasi. 
3.        Dorsogluteal
Dalam melakukan injeksi dorsogluteal, perawat harus teliti dan hati- hati sehingga injeksi tidak mengenai saraf skiatik dan pembuluh darah. Lokasi ini dapat digunakan pada orang dewasa dan anak-anak diatas usia 3 tahun,  lokasi ini tidak boleh digunakan pada anak dibawah 3 tahun karena kelompok usia ini otot Description: H:\Dorsogluteal-Injection-Site.pngdorsogluteal belum berkembang. Salah satu cara menentukan lokasi dorsogluteal adalah membagi area glutael menjadi kuadran-kuadran. Area glutael tidak terbatas hanya pada bokong saja tetapi memanjang kearah Kristal iliaka. Area injeksi dipilih pada kuadran area luar atas.
4.        Otot Deltoid di lengan atas
Posisi klien duduk atau berbaring datar dengan lengan bawah fleksi tetapi rileks menyilangi abdomen atau pangkuan. Area ini dapat ditemukan pada lengan atas bagian luar. Area ini jarang digunakan untuk injeksi intramuscular karena mempunyai resiko besar terhadap bahaya tertusuknya pembuluh darah, mengenai tulang atau serabut saraf. Cara sederhana untuk menentukan lokasi pada deltoid adalah meletakkan dua jari secara vertical dibawah akromion dengan jari yang atas diatas akromion. Lokasi injekssi adalah 3 jari dibawah akromion.

2.6.    Prosedur Pemberian Obat Secara IM         
1.             Alat dan Bahan
a.         Spuid steril dengan isi dari 2 hingga 10 cc (untuk maksud tertentu hingga 20 cc).
b.        Jarum suntik steril dengan panjang yang cukup untuk dapat menusuk otot dengan baik ( ± 6,5 cm).
c.         Bak injeksi.
d.        Bengkok.
e.         Kassa.
f.         Obat yang akan digunakan.
g.        Gergaji kecil untuk memotong ampul (bila perlu).
h.        Handscone.
i.          Kapas alkohol.
j.          Cairan pelarut atau cairan steril.
k.        Daftar buku obat/catatan, jadwal pemberian obat.

2.             Prosedur
a.       Persiapkan alat terlebih dahulu.
b.      Letakkan alat didekat pasien agar lebih mudah.
c.       Pastikan apakah obat yang akan diberikan kepada pasien dan pasiennya tepat dengan cara melihat label obat dan buku catatan.
d.      Jelakan kepada pasien tindakan yang akan dilakukan.
e.       Cuci tangan sebelum melakukan tindakan.
f.       Pakai handscoen.
g.      Ambil spuit, kemudian lepaskan penutupnya.
h.      Ambil obat kemudian masukkan kedalam spuit sesuai dengan dosis, setelah itu letakkan kedalam bak injeksi. Sebelum itu pastikan lagi apakah obat yang akan diberikan sudah benar.
i.        Periksa tempat yang akan dilakukan tindakan penyuntikan.
j.        Desinfeksi dengan kapas alkohol daerah yang akan dilakukan tindakan penyuntikan.
k.      Lakukan penusukan dengan posisi jarum tegak lurus.
l.        Setelah jarum masuk, lakukan aspirasi spuit. Bila tidak ada darah, masukkan obat secara perlahan hingga habis.
m.    Setelah selesai ambil spuit dengan menarik spuit dan tekan daerah penyuntikan dengan kapas alkohol, tutup spuit kembali dan kemudian letakkan spuit yang telah digunakan kedalam bengkok.
n.      Lihat kembali obat yang telah diberikan kepada pasien.
o.      Catat reaksi, jumlah dosis, dan waktu pemberian.
p.      Lepaskan handscoen dan bersihkan peralatan yang telah digunakan.
q.      Cuci tangan.





BAB III
PENUTUP


3.1    Kesimpulan
          Pemberian obat secara intramuskular adalah pemberian obat/cairan dengan cara dimasukkan langsung kedalam otot (muskulus). Pemberian obat dengan cara ini dilakukan pada bagian tubuh yang berotot besar, agar tidak ada kemungkinan untuk menusuk saraf, misalnya pada bokong dan kaki bagian atas atau pada lengan bagian atas. Pemberian obat intramuskulus diindikasikan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral. Obat-obatan yang diberikan juga tertentu, misalnya obat untuk imunisasi.
 




DAFTAR PUSTAKA


Bouwhuizen, M.1986.Ilmu Keperawatn bagian 1.Jakarta : EGC.

Hidayat, Aziz Alimul dan Musrifatul Uliyah.2014.Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Edisi 2 Buku 2.Jakarta : Salemba Medika.

Stevens, P. J. M, dkk.1992.Ilmu Keperawatanjilid 2 edisi 2.Jakarta : EGC.

IntraMuskular

ILMU KEPERAWATAN DASAR INTRA MUSKULAR DI SUSUN OLEH KELOMPOK 3 VITA ULAN SRI ASTUTI EVA BONITA NURU...