ILMU KEPERAWATAN DASAR
INTRA MUSKULAR
DI SUSUN OLEH
KELOMPOK 3
VITA ULAN
SRI ASTUTI
EVA BONITA
NURUL AINI
ALYATI
RODHATUL JANNAH
INEKE IVONG
MESSY SUPRIANTINI
IDA NURWAHIDA
DOMINATRI
BAGUS BAJANG RINJANI
M.RIZAL PHALEPI
STIKES MATARAM
JUNI 2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Tindakan injeksi merupakan salah
satu tindakan medis yang paling sering dikerjakan. Lebih dari 90% tindakan
injeksi dikerjakan untuk tujuan terapeutik, sementara 5-10% untuk tindakan
preventif termasuk keluarga berencana. Tindakan injeksi harus dikerjakan secara
aman. Penggunaan alat injeksi yang berulang dapat menjadi sumber transmisi
virus Hepatitis B, virus Hepatitis C dan HIV. Karena itu WHO merekomendasikan
pengunaan alat injeksi sekali pakai (disposable).
Tidak jarang tindakan injeksi
menimbulkan rasa takut pada pasien, baik anak maupun orang dewasa. Tehnik yang
tepat dapat mengurangi rasa sakit akibat proses injeksi. Empat hal yang harus
diperhatikan dalam tindakan injeksi yaitu: rute injeksi, lokasi injeksi, tehnik
dan alat.
Injeksi adalah suatu metode untuk
memasukkan liquid ke dalam tubuh dengan menggunakan spuit dan jarum melalui
kedalaman kulit tertentu agar bahan-bahan dapat didorong masuk kedalam tubuh.
Tindakan injeksi pun dapat dilakukan dengan rute IM (Intramuskular), IV
(Intravena), IC (Intracutan), dan SC(Subcutan).
Injeksi itramuskular (IM), memungkinkan adsorbsi obat yang
lebih cepat daripada rute SC karena pembuluh darah lebih banyak terdapat di
otot. Bahaya kerusakan jaringan berkurang ketika obat memasuki otot yang dalam
tetapi bila tidak berhati-hati ada resiko menginjeksi obat langsung ke pembuluh
darah. Dengan injeksi di dalam otot yang terlarut berlangsung dalam 10-30
menit, guna memperlambat adsorbsi dengan maksud memperpanjang kerja obat, seringkali
digunakan larutan atau suspensi dalam minyak umpamanya suspense penicilin dan
hormone kelamin.
1.2. Rumusan
Masalah
1.
Apa pengertian pemberian obat secara IM?
2.
Apa prinsip pemberian obat secara IM?
3.
Apa indikasi dan kontra indikasi pemberian obat secara IM?
4.
Apa macam-macam obat yang diberikan secara IM?
5.
Dimana
daerah pemberian obat secara IM?
6.
Bagaimana prosedur pemberian obat secara IM?
1.3. Tujuan
1.
Untuk mengetahui pengertian pemberian obat secara IM.
2.
Untuk mengetahui prinsip pemberian obat secara IM.
3.
Untuk mengetahui indikasi dan kontra indikasi pemberian obat
secara IM.
4.
Untuk mengetahui macam-macam obat yang diberikan secara IM.
5.
Untuk menegtahui daerah pemberian obat secara IM.
6.
Untuk mengetahui prosedur pemberian obat secara IM.
1.4. Manfaat
1.
Agar dapat mengetahui pengertian pemberian obat secara IM.
2.
Agar dapat mengetahui prinsip pemberian obat secara IM.
3.
Agar dapat mengetahui indikasi dan kontra indikasi pemberian
obat secara IM.
4.
Agar dapat mengetahui macam-macam obat yang diberikan secara
IM.
5.
Agar dapat mengetahui daerah pemberian obat secara IM.
6.
Agar dapat mengetahui prosedur pemberian obat secara IM.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Pemberian Obat Secara IM
Pemberian obat secara intramuskular
adalah pemberian obat/cairan dengan cara dimasukkan langsung kedalam otot
(muskulus). Pemberian obat dengan cara ini dilakukan pada bagian tubuh yang
berotot besar, agar tidak ada kemungkinan untuk menusuk saraf, misalnya pada
bokong dan kaki bagian atas atau pada lengan bagian atas. Pemberian obat seperti
ini memungkinkan obat akan dilepas secara berkala dalam bentuk depot obat.
Jaringan intramuskular terbentuk
dari otot yang bergaris yang mempunyai banyak vaskularisasi aliran darah
tergantung dari posisi otot ditempat penyuntikan. Tujuan pemberian obat secara
intramuskular yaitu agar obat diabsrorbsi tubuh dengan cepat.
2.2. Prinsip Pemberian Obat Secara IM
Para petugas medis
dituntut harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat, termasuk
6 prinsip pemberian obat yang benar. Adapun 6 prinsip tersebut antara lain:
1.
Benar Klien/Pasien
Obat yang
akan diberikan hendaknya benar pada pasien yang diprogramkan dengan cara
mengidentifikasi kebenaran obat dengan mencocokkan nama, nomor register, alamat
dan program pengobatan pada pasien.
Sebelum obat
diberikan, identitas pasien harus diperiksa (papan identitas di tempat tidur,
gelang identitas) atau ditanyakan langsung kepada pasien atau keluarganya. Jika
pasien tidak sanggup berespon secara verbal, respon non verbal dapat dipakai,
misalnya pasien mengangguk. Jika pasien tidak sanggup mengidentifikasi diri
akibat gangguan mental atau kesadaran, harus dicari cara identifikasi yang lain
seperti menanyakan langsung kepada keluarganya. Bayi harus selalu
diidentifikasi dari gelang identitasnya.
2.
Benar Obat
Sebelum
mempersipakan obat ketempatnya perawat harus memperhatikan kebenaran obat
sebanyak 3 kali yaitu ketika memindahkan obat dari tempat penyimpanan obat,
saat obat diprogramkan, dan saat mengembalikan ketempat penyimpanan.
Obat
memiliki nama dagang dan nama generik. Setiap obat dengan nama dagang yang kita
asing (baru kita dengar namanya) harus diperiksa nama generiknya, bila perlu
hubungi apoteker untuk menanyakan nama generiknya atau kandungan obat. Sebelum
memberi obat kepada pasien, label pada botol atau kemasannya harus diperiksa
tiga kali. Pertama saat membaca permintaan obat dan botolnya diambil
dari rak obat, kedua label botol dibandingkan dengan obat yang diminta, ketiga
saat dikembalikan ke rak obat. Jika labelnya tidak terbaca, isinya tidak boleh
dipakai dan harus dikembalikan ke bagian farmasi. Jika pasien meragukan
obatnya, perawat harus memeriksanya lagi. Saat memberi obat, perawat harus
ingat untuk apa obat itu diberikan. Ini membantu mengingat nama obat dan
kerjanya.
3.
Benar Dosis
Dosis
yang diberikan klien harus sesuai dengan kondisi klien. Dosis yang diberikan
harus pula dalam batas yang direkomendasikan untuk obat yang bersangkutan.
Perawat harus teliti dalam menghitung secara akurat jumlah dosis yang akan
diberikan, dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: tersedianya obat
dan dosis yang diresepkan/diminta, pertimbangan berat badan klien
(mg/KgBB/hari), jika ragu-ragu dosis obat harus dihitung kembali dan diperiksa
oleh perawat lain. Serta melihat batas yang direkomendasikan bagi dosis obat
tertentu.
4.
Benar Waktu
Pemberian
obat harus sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Dosis obat harian
diberikan pada waktu tertentu dalam sehari. Misalnya seperti 2x sehari, 3x
sehari, 4x sehari, dan 6x sehari. Sehingga kadar obat dalam plasma tubuh dapat
dipertimbangkan. Pemberian obat harus sesuai dengan waktu paruh obat (t ½).
Obat yang mempunyai waktu paruh panjang diberikan sekali sehari, dan untuk obat
yang memiliki aktu paruh pendek diberika beberapa kali sehari pada selang waktu
tertentu. Pemberian obat juga memperhatikan dibeikan sbelum atau sesudah makan
atau bersama makan. Ingat pula untuk memberikan obat-obat seperti kalium dan
aspirin yang dapat mengiritasi mukosa lambung bersama-sama dengan makanan.
Menjadi tanggung jawab perawat untuk memeriksa apakah klien telah dijadwalkan
untuk memeriksa diagnostik, seperti tes darah puasa yang merupakan
kontraindikasi pemeriksaan obat.
5.
Benar Cara/Rute
Memperhatikan proses absorbsi obat dalam tubuh
harus tepat dan
memadai. Obat dapat
diberikan melalui sejumlah rute yang berbeda. Faktor yang menentukan pemberian
rute terbaik ditentukan oleh keadaan umum pasien, kecepatan respon yang
diinginkan, sifat kimiawi dan fisik obat, serta tempat kerja yang diinginkan.
Obat dapat diberikan peroral, sublingual, parenteral, topikal, rektal,
inhalasi.
6.
Benar Dokumentasi
Pemberian obat
sesuai dengan standar
prosedur yang berlaku di rumah
sakit. Dan selalu mencatat informasi yang sesuai mengenai obat yang telah diberikan serta respon klien
terhadap pengobatan. Setelah obat
itu diberikan, harus didokumentasikan, dosis, rute, waktu dan oleh siapa obat
itu diberikan. Bila pasien menolak meminum obatnya, atau obat itu tidak dapat
diminum, harus dicatat alasannya dan dilaporkan.
2.3. Indikasi dan Kontraindikasi Pemberian Obat
Secara IM
Indikasi pemberian obat secara
intramuskular biasa dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau
bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral. Kontra
indikasi dalam pemberian obat secara intramuskular yaitu: infeksi, lesi kulit,
jaringan parut, benjolan tulang, otot atau saraf besar dibawahnya.
2.4. Macam-macam Obat IM
Berikut adalah
macam-macam obat yang diberikan secara intramuskular:
a.
MATOLAC
1)
Untuk penggunaan jangka pendek untuk nyeri
akut sedang sampai dengan berat.
2)
DOSIS : 10-30 mg tiap 4-6 jam. maks: sehari 90
mg, lama terapi maksimal (pemberian IM/IV) tidak boleh dari 5 hari. km : 5 amp
10 mg
b.
FENTANYL
1)
Untuk depresi pernafasan,cedera
kepala,alkhoholisme akut, serangan asma akut, intolerensihamil,laktasi.
2)
DOSIS: pramedikasi, 100 mcg scr IM
30-60 sblm op.
c.
DOLGESIK
1)
Untuk pengobatan nyeri akut dan kronik yang berat, nyeri
paska op (oprasi).
2)
DOSIS: dosis tunggal untuk dewasa dan anak-anak
>12 thn : 1 amp (100mg) IM di suntikkan perlahan-lahan.
Maksimal 4 amp . anak- anak :, 1 thn: 1-2 mg/kg.
d.
DURALGIN.
1)
Untuk analgesik seperti : nyeri setelah op,
neuralgia.
2)
DOSIS
-
Dws 25-100 mg ,maksimal sehari 300 mg dalam
dosis.
-
Bagi, anak ,6 thn: sehari maks 100 mg i.m
-
Dosis bagi anak-anak 6-12 thn : sehari
maksimal 20000 mg.
e.
BCG
1) Perlindungan Penyakit : TBC / Tuberkolosis
2) Penyebab : Bakteri Bacillus Calmette Guerrin
3) Kandungan : Bacillus Calmette-Guerrin yang dilemahkan
4) Waktu Pemberian :
Umur / usia 2 bulan
Umur / usia 2 bulan
f.
DPT/DT
1) Perlindungan Penyakit : Difteri (infeksi tenggorokan), Pertusis
(batuk rejan) dan Tetanus (kaku rahang).
2) Penyebab : Bakteri difteri, pertusis dan tetanus
3) Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 3 bulan
II. Umur / usia 4 bulan
III. Umur / usia 5 bulan
IV. Umur / usia 1 tahun 6 bulan
V. Umur / usia 5 tahun
VI. Umur / usia 10 tahun
I. Umur / usia 3 bulan
II. Umur / usia 4 bulan
III. Umur / usia 5 bulan
IV. Umur / usia 1 tahun 6 bulan
V. Umur / usia 5 tahun
VI. Umur / usia 10 tahun
g.
Hepatitis
B
1) Perlindungan Penyakit : Infeksi Hati / Kanker Hati mematikan
2) Waktu Pemberian :
I. Ketika baru lahir atau tidak lama setelahnya
II. Tergantung situasi dan kondisi I
III. Tergantung situasi dan kondisi II
IV. Tergantung situasi dan kondisi II
I. Ketika baru lahir atau tidak lama setelahnya
II. Tergantung situasi dan kondisi I
III. Tergantung situasi dan kondisi II
IV. Tergantung situasi dan kondisi II
h.
Hepatitis
A
1) Perlindungan Penyakit : Hepatitis A (Penyakit Hati)
2) Penyebab : Virus hepatitis A
3) Waktu Pemberian :
I. Tergantung situasi dan kondisi I
II. Tergantung situasi dan kondisi II
I. Tergantung situasi dan kondisi I
II. Tergantung situasi dan kondisi II
2.5. Daerah Pemberian Obat Secara IM
1.
Paha (vastus
lateralis)
Posisi klien
terlentang dengan lutut agak fleksi. Area ini terletak antar sisi median
anterior dan sisi midlateral paha. Otot vastus lateralis biasanya tebal dan
tumbuh secara baik pada orang deawasa dan anak-anak. Bila melakukan
injeksi pada bayi disarankan menggunakan area ini karena pada area ini tidak
terdapat serabut saraf dan pemubuluh darah besar. Area injeksi disarankan pada
1/3 bagian yang tengah. Area ini ditentukan dengan cara membagi area antara
trokanter mayor sampai dengan kondila femur lateral menjadi 3 bagian, lalu
pilih area tengah untuk lokasi injeksi. Untuk melakukan injeksi ini pasian
dapat diatur miring atau duduk.
2.
Ventrogluteal
Posisi klien berbaring
miring, telentang, atau telentang dengan lutut atau panggul miring dengan
tempat yang diinjeksi fleksi. Area ini juga disebut area von hoehstetter. Area
ini paling banyak dipilih untuk injeksi muscular karena pada area ini tidak
terdapat pembuluh darah dan saraf besar. Area ini ini jauh dari anus sehingga
tidak atau kurang terkontaminasi.
3.
Dorsogluteal
Dalam melakukan
injeksi dorsogluteal, perawat harus teliti dan hati- hati sehingga injeksi
tidak mengenai saraf skiatik dan pembuluh darah. Lokasi ini dapat digunakan
pada orang dewasa dan anak-anak diatas usia 3 tahun, lokasi
ini tidak boleh digunakan pada anak dibawah 3 tahun karena kelompok usia ini
otot
dorsogluteal belum berkembang. Salah satu
cara menentukan lokasi dorsogluteal adalah membagi area glutael menjadi
kuadran-kuadran. Area glutael tidak terbatas hanya pada bokong saja tetapi
memanjang kearah Kristal iliaka. Area injeksi dipilih pada kuadran area luar
atas.
dorsogluteal belum berkembang. Salah satu
cara menentukan lokasi dorsogluteal adalah membagi area glutael menjadi
kuadran-kuadran. Area glutael tidak terbatas hanya pada bokong saja tetapi
memanjang kearah Kristal iliaka. Area injeksi dipilih pada kuadran area luar
atas.
4.
Otot Deltoid di
lengan atas
Posisi klien duduk atau berbaring datar dengan
lengan bawah fleksi tetapi rileks menyilangi abdomen atau pangkuan. Area ini
dapat ditemukan pada lengan atas bagian luar. Area ini jarang digunakan untuk
injeksi intramuscular karena mempunyai resiko besar terhadap bahaya tertusuknya
pembuluh darah, mengenai tulang atau serabut saraf. Cara sederhana untuk
menentukan lokasi pada deltoid adalah meletakkan dua
jari secara vertical dibawah akromion dengan jari yang atas diatas akromion.
Lokasi injekssi adalah 3 jari dibawah akromion.
2.6. Prosedur Pemberian Obat Secara IM
1.
Alat dan Bahan
a.
Spuid steril dengan isi dari 2 hingga 10 cc (untuk maksud tertentu
hingga 20 cc).
b.
Jarum suntik steril dengan panjang yang cukup untuk dapat
menusuk otot dengan baik ( ± 6,5 cm).
c.
Bak injeksi.
d.
Bengkok.
e.
Kassa.
f.
Obat yang akan digunakan.
g.
Gergaji kecil untuk memotong ampul (bila perlu).
h.
Handscone.
i.
Kapas alkohol.
j.
Cairan pelarut atau cairan steril.
k.
Daftar buku obat/catatan, jadwal pemberian obat.
2.
Prosedur
a.
Persiapkan alat terlebih dahulu.
b.
Letakkan alat didekat pasien agar lebih mudah.
c.
Pastikan apakah obat yang akan diberikan kepada pasien dan pasiennya
tepat dengan cara melihat label obat dan buku catatan.
d.
Jelakan kepada pasien tindakan yang akan dilakukan.
e.
Cuci tangan sebelum melakukan tindakan.
f.
Pakai handscoen.
g.
Ambil spuit, kemudian lepaskan penutupnya.
h.
Ambil obat kemudian masukkan kedalam spuit sesuai dengan dosis, setelah
itu letakkan kedalam bak injeksi. Sebelum itu pastikan lagi apakah obat yang
akan diberikan sudah benar.
i.
Periksa tempat yang akan dilakukan tindakan penyuntikan.
j.
Desinfeksi dengan kapas alkohol daerah yang akan dilakukan tindakan
penyuntikan.
k.
Lakukan penusukan dengan posisi jarum tegak lurus.
l.
Setelah jarum masuk, lakukan aspirasi spuit. Bila tidak ada darah,
masukkan obat secara perlahan hingga habis.
m.
Setelah selesai ambil spuit dengan menarik spuit dan tekan daerah
penyuntikan dengan kapas alkohol, tutup spuit kembali dan kemudian letakkan
spuit yang telah digunakan kedalam bengkok.
n.
Lihat kembali obat yang telah diberikan kepada pasien.
o.
Catat reaksi, jumlah dosis, dan waktu pemberian.
p.
Lepaskan handscoen dan bersihkan peralatan yang telah digunakan.
q.
Cuci tangan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pemberian
obat secara intramuskular adalah pemberian obat/cairan dengan cara dimasukkan
langsung kedalam otot (muskulus). Pemberian obat dengan cara ini dilakukan pada
bagian tubuh yang berotot besar, agar tidak ada kemungkinan untuk menusuk
saraf, misalnya pada bokong dan kaki bagian atas atau pada lengan bagian atas.
Pemberian obat intramuskulus diindikasikan pada pasien yang tidak sadar dan
tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara
oral. Obat-obatan yang diberikan juga tertentu, misalnya obat untuk imunisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Bouwhuizen, M.1986.Ilmu Keperawatn bagian 1.Jakarta : EGC.
Hidayat, Aziz Alimul dan Musrifatul
Uliyah.2014.Pengantar Kebutuhan Dasar
Manusia Edisi 2 Buku 2.Jakarta :
Salemba Medika.
Stevens, P. J. M, dkk.1992.Ilmu Keperawatanjilid 2 edisi 2.Jakarta
: EGC.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar